MENATA HIDUP DALAM PEMBENTUKAN DIRI-KU
SEBAGAI SEORANG PEMIMPIN PELAYAN YANG BERTANGUNG JAWAB
(Suatu Refleksi My Leadership)
oleh: Lucius Tumanggor
RITME HIDUP-KU SEHARI-HARI
Bila seseorang tinggal dalam suatu komunitas-biara, maka ia tidak bisa lepas dari sebuah aturan. Peraturan diberlakukan untuk mengarahkan setiap anggotanya berjalan dalam satu tujuan: kebersamaan sebagaimana dalam visi-misi biara-komunitas bersangkutan. Dalam kebersamaan itu, setiap anggota dituntut untuk bertanggung jawab serta berkembang dalam kepribadian, baik itu secara psiko-sosio- spiritual.
Penulis adalah seorang seminaris SVD (Serikat Sabda Allah), yang sekarang studi di STFT (Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi), pasca sarjana, program magister. Di seminari, penulis adalah salah satu terlibat sebagai pemimpin yakni, wakil ketua komunitas. Ketika penulis mencantumkan dua instansi (SVD dan STFT) dalam status diri, kami hendak mengungkapkan bahwa penulis hidup dalam dua peraturan yang berbeda, yakni: sebagai seorang seminaris yang wajib mengikuti peraturan di seminari SVD dan sebagai mahasiswa STFT juga wajib mengikuti peraturan STFT. Dengan kata lain, penulis mematuhi dan menjalankan dua peraturan instansi setiap hari dari pagi sampai malam hari, sekaligus. Di bawah ini, penulis mencantumkan jadwal harian seminari yang wajib saya jalankan dan patuhi setiap harinya. Namun, untuk jadwal STFT, penulis tidak perlu mencantumkannya karena penulis yakin kita telah mengetahuinya dengan baik.
Jadwal Harian Komunitas Seminari SVD
SENIN SELASA (selasa adalah English day) RABU KAMIS
( English day)
04.45: bangun
05.15: laudes /meditasi
06.15: misa kudus
Makan
08.00: kuliah
13.00: hora media
Makan
14.00: siesta
15.15: bangun
15.45: potus
16.15: tgkt III dan IV olah raga
19.00: ibadat sabda (senin I, II, IV, V), senin III: salve
19.30: makan
Rekreasi
20.45: completorium
Silentium magnum
Acara pribadi
23.00: tidur 04.45: bangun
05.15: laudes /meditasi
06.15: misa kudus
Makan
08.00: kuliah
13.00: hora media
Makan
14.00: siesta
15.15: bangun/opus
16.15: olah raga uk semua
18.00: vesperae/ lth. koor
19.30: makan Rekreasi
20.45: completorium
Silentium magnum
Acara pribadi
23.00: tidur
04.45: bangun
05.15: laudes /meditasi
06.15: misa kudus
Makan
08.00: kuliah
13.00: hora media
Makan
14.00: siesta
15.15: bangun
15.45: vesperae
potus
16.15: tgkt I dan VI olah raga
16.30: kursus bhs Inggris
19.30: makan, doa malam, Rekreasi/nonton
Acara pribadi
Silentium magnum
23.00: tidur 04.45: bangun
05.15: laudes +misa kudus, meditasi pribadi
06.45: Makan
08.00: acara pribadi
11.00: silentium parvum
12.30: hora media
Makan
14.00: siesta
15.15: bangun.
15.45: doa,( Kamis I: jam Kudus, II: Konfrensi umum, III: Pengakuan dosa)
16.15: tgkt III dan IV olah raga
19.30: makan
Rekreasi
20.45: completorium
Silentium magnum
Acara pribadi
23.00: tidur
JUMAT SABTU MINGGU HARI LIBUR
04.45: bangun
05.15: laudes /meditasi
06.15: misa kudus
Makan
08.00: kuliah
13.00: hora media
Makan
14.00: siesta
15.15: bangun
15.45: potus
19.00: vesperae
Jumat I. salve HKY
19.30: makan
Rekreasi
20.45: completorium
Silentium magnum
Acara pribadi
23.00: tidur 04.45: bangun
05.15: laudes /meditasi
06.15: misa kudus
Makan
08.00: kuliah
13.00: hora media
Makan
14.00: siesta
15.15: bangun
Opus, olah raga untuk semua
18.00: vesperae
Lth. koor
19.30: makan sbil silentium
20.30:kompletorium/Rosario
/lectio divina.
Silentium magnum
23.00: tidur 04.45: bangun
05.15: laudes
misa kudus
Makan,tugas misioner
Acara pribadi/masak
10.00: potus
11.00: silentium parvum
12.30: hora media
Makan
13.30: siesta
15.15: bangun
16.00: potus
16.30: studi
18.45:vesperae+pentahtaan
19.30: makan
Doa malam pribadi
Rekreasi panjang
23.00: tidur 05.00: bangun
05.30: laudes /meditasi
06.30: misa kudus
Makan, acara pribadi
10.00: potus
12.30: hora media
Makan
13.30: siesta
16.30: studi acara pribadi
19.00: vesperae
19.30: makan
Rekreasi panjang
Doa malam pribadi
23.00: tidur
I. PENGANTAR
Salah satu cara untuk menata hidup yang teratur adalah memaknai waktu (time) dengan bertanggung jawab. Peraturan diberlakukan dalam bentuk jadwal harian bukan untuk membuat manusia semakin kaku, tidak berkembang, atau dijadikan sebagai robot, melainkan untuk menjadikan manusia semakin berkualitas serta pribadi yang kreatif dan bertanggung jawab. Istilah manusia yang “berkualitas serta bertanggung jawab dan kreatif” perlu diperhatikan untuk membentuk diri menjadi seorang pemimpin yang melayani.
Paper ini akan berbicara tentang “menata hidup dalam pembentukan diri-ku sebagai seorang pemimpin yang melayani”. Dalam paper ini akan dibahas bagaimana saya menata hidup dalam rentetan waktu tersebut? pertama-tama, kita hendaknya memiliki sebuah kesadaran. Kedua, kita perlu menimba dan belajar dari pengalaman tokoh yang telah lebih dahulu memiliki kesadaran akan materi ini. Ketiga, ketika kita memiliki kesadaran untuk belajar, tentunya kita juga hendaknya berkembang baik itu secara rohani, sosial/hidup berkomunitas. Namun, kita juga perlu merealisasikannya bagaimana kepemimpinan-ku itu dalam kehidupan bersama (komunitas). Demi meraih suatu keberhasilan, kita juga perlu mengakui bahwa kita menemukan adanya keterbatasan diri yang kerap mempersulit diri untuk bertumbuh dan berkembang. Kemudian, tulisan ini akan ditutup dengan sedikit kesimpulan apa yang menjadi inti dari materi ini. Bagaimana hal ini dicapai? Inilah yang akan menghiasi isi paper ini.
II. ARTI DAN MAKNA SEBUAH KESADARAN DALAM DIRI SEORANG PEMIMPIN
Apa yang dimaksudkan dengan sebuah kesadaran dalam diri seorang pemimpin? Kesadaran yang kami maksudkan adalah suatu kesadaran akan tindakan dan perbuatannya. Kesadaran mengacu kepada diri yang sedang merasakan, mengetahui, mengerti serta mengingat suatu keadaan atau peristiwa realitasnya yang sebenarnya. Kesadaran juga mengarah pada diri yang tau dan mengenal dirinya dengan baik. Kesadaran merupakan juga sesuatu yang dimiliki oleh manusia dan tidak ada pada ciptaan Tuhan yang lain.
Menjadi pertanyaan bagi kita, apa hubungan kesadaran dengan kepemimpinan? Dalam pemahaman saya bahwa kesadaran tidak bisa dilepaskan dari jati diri seorang pemimpin. Dengan kesadarannya, seorang pemimpin akan mampu membuat suatu refleksi yang mendalam terhadap suatu tugas panggilannya sebagaimana yang dituntut dalam sistem kepemimpinan itu sendiri. Dengan kesadarannya pula, seorang pemimpin dapat menempatkan dirinya sesuai dengan yang diyakininya, mengetahui apa tugas dan tanggung jawabnya dalam panggilannya sebagai seorang pemimpin yang melayani.
III. BELAJAR DARI TOKOH (ROBERT K. GREENLEAF)
Robert K. Greenleaf mengatakan bahwa pemimpin mempunyai kekuatan mempengaruhi orang lain yang didukung dengan ketekunan, keteguhan, dan keberanian untuk mencoba dan menanggung resiko. Juga, seorang pemimpin yang pelayan harus berani menanggung beban orang lain. Ia harus berjalan lebih dahulu melewati jalan yang seringkali sulit dan penuh pergulatan dengan keyakinan berbekal pada pengalaman dan pengetahuan yang perlu dan juga pada tingkat kesadaran. Maka, dalam pemahaman Greenleaf, suatu situasi tertentu pemahaman intuitif akan muncul untuk menunjukkan kinerja yang terbaik (Luk 12:12). (Bdk, materi kuliah dalam leadership).
3.1. Penataan Diri-Ku Menjadi Seorang Pemimpin yang Melayani
Bagi penulis, menata hidup dalam pembentukan diri sebagai seorang pemimpin yang melayani titik tolaknya adalah kesadaran. Di atas penulis telah menyinggung hal ini, bagaimana diri seorang pemimpin yang sadar. Efektivitas dari kesadaran tersebut terlintas dalam diri sendiri, yakni: bagaiamana kita memaknai “sebuah” waktu (time) dalam keseharian kita. Dalam memaknai waktu tersebut penulis perlu belajar dari Robert K. Greenleaf tentang beberapa cara yang harus secara terus-menerus dilakukan.
Cara tersebut saya terjemahkan dan tafsirkan sebagai berikut: setiap orang yang hendak menjadi pemimpin, ia harus memiliki kesadaran untuk menjadi diri sendiri yang sesungguhnya. Hal ini dapat dicapai manakala kita berhasil mengenal diri secara baik. Ketika kita mengenal diri lebih baik, maka adalah lebih mudah bagi kita untuk memahami orang lain. Lalu yang perlu diterapkan dalam diri adalah kemauan kuat untuk belajar terus-menerus dengan suatu ketekunan diri dalam setiap proses pembelajaran. Bila hal ini tercapai dengan baik, maka kehadiran kita sebagai pelayan akan sangat mudah diterima oleh orang lain meskipun seyogianya kita harus menanggung resiko.
3.1.1. Kesadaran untuk menjadi diri sendiri
Salah satu hal yang perlu dilakukan oleh seorang pemimpin adalah kesadaran untuk menjadi dirinya sendiri yang sesungguhnya bukan diri yang lain. Sebab kepemimpinan tanpa memiliki kesadaran adalah pemimpin yang tidak mengerti akan keberadaan dirinya, serta lingkup tanggung jawabnya. Bagi penulis kesadaran akan tugas, tanggung jawab untuk melayani orang lain adalah panggilan pertama dan terutama bagi setiap pemimpin pelayan.
Adalah sangat ironis dalam sistem kepemimpinan bahwa ada sang pemimpin yang menolak suatu tanggung jawab untuk menjadi dirinya sendiri. Andrias Harefa pernah mengatakan bahwa “mana kala kita menolak tanggung jawab untuk menjadi diri sendiri, kita hanya membuat diri menjadi bonsai dan kerdil secara psiko-social- spiritual”. Mengapa? karena kita telah melecehkan hakikat dan esensi kemanusiaan kita dalam diri kita itu sendiri. Melalui pernyataan di atas, kita pun bertanya, apa yang harus kita lakukan untuk sampai pada pengenalan diri yang otentik? Bagi penulis, yang perlu dibutuhkan adalah pengetahuan atau pengenalan diri, kemauan yang kuat untuk menjadi diri sendiri serta ketekunan dalam diri.
3.1.1.1. Pengetahuan/pengenalan diri
Di dalam seminari ditemukan jadwal yang sangat rapi. Dalam jadwal yang terstruktur ini kita dituntut secara terus-menerus supaya mengenal diri lebih baik. Mengenal diri lebih baik itu tepatnya lewat meditasi, sekurang-kurangnya 30 menit setiap hari. Waren Bennis berhasil merangkum empat pelajaran yang sangat penting untuk dapat memiliki pengetahuan diri: pertama, kita adalah guru terbaik bagi diri sendiri. Maksudnya adalah karena dalam hal menjadi diri sendiri tidak seorang pun yang bisa mengajarkan dan melatihnya. Orang hanya bisa mengajarkan dan melatihkan bagaimana menjadi diri mereka, tetapi tidak menjadi diri kita sendiri. Menjadi diri sendiri tidak mungkin dilakukan dengan meniru orang lain. Setiap orang itu otentik, orisinal, dan bukan tiruan.
Kedua, menerima tanggung jawab dan berhenti menyalahkan siapapun . Maksudnya adalah apa yang diserahkan oleh anggota komunitas kepada kita sebagai wujud pertanggung jawaban, kita perlu menjalankannya dengan baik secara benar dan bertanggung jawab. Tanggung jawab ada pada kita. Bila terjadi kegagalan, maka tak ada waktu bagi kita untuk menyalahkan anggota komunitas lainnya sebagai dalang utama dari sebuah kegagalan kita. Adalah lebih positip bagi kita, jikalau kita berhasil melakukan sesuatu, maka hal itu keberhasilan semua/ komunitas. Tetapi sangatlah negatif rasanya, jikalau kita gagal, maka hal itu ditimpakan kepada semua anggota/ komunitas, bahkan menuduh yang lain sebagai dalang kegagalan kita.
Ketiga, kita dapat belajar apapun yang ingin kita pelajari . Maksudnya adalah setiap orang dapat belajar tentang teori, praktek, kiat, dan “belajar bagaimana hidup bersama”. Dengan pembelajaran ini, kita bisa belajar tentang alam semesta, memahami sesama manusia dan mengenal diri lebih dalam. Dengan kata lain, kita memiliki kesempatan untuk mempelajari banyak hal dalam lingkungan kita. Semua realitas yang ada dalam kehidupan kita merupakan ladang atau sumber pembelajaran kita.
Keempat, Pengertian yang benar berasal dari pencerminan dalam pengalaman diri . Pernyataan ini menyangkut keberadaan kita sebagai makhluk yang bisa merenungkan dirinya sendiri. Setiap orang tidak saja dapat memikirkan (akal) apa dan siapa dirinya, tetapi juga dapat merasakan (hati) apa dan siapa dirinya itu, dan bahkan mengekspresikan (kemauan) apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Melihat diri sendiri dengan baik biasanya melihat orang lain juga bersikap yang sama.
3.1.1.2. Kemauan yang kuat untuk belajar
Seorang pemimpin harus memiliki kemauan yang kuat untuk belajar. Kemauan merupakan sebuah keputusan besar yang bersifat mental-spiritual untuk mempelajari cara-cara pembelajaran yang tidak merendahkan derajat harkat dan martabat diri sebagai ciptaan Tuhan. Banyak orang enggan melakukannya. Sebab diperlukan tanggung jawab pribadi dalam arti kesediaan menghadapi resiko untuk melakukan kesalahan dan menanggung akibatnya tanpa dapat bersembunyi di balik bayang-bayang orang lain. Resiko itu bernama “penderitaan”. Itulah yang ditakutkan orang sehingga banyak orang berusaha lari dari kemungkinan menjadi dirinya sendiri yang berdaya, bebas dan merdeka. Akan tetapi, jika direnungkan lebih jauh, resiko yang ditakuti itu sebetulnya merupakan hal yang irrasional. Sebab, dengan menolak untuk bertanggung jawab, seseorang juga akan menerima resiko lainnya, yang bahkan lebih buruk.
3.1.1.3. Ketekunan
Salah satu cara yang tepat yang perlu ditanamkan seseorang pemimpin adalah ketekunan. Ketekunan adalah upaya bersinambung untuk mencapai tujuan tertentu tanpa mudah menyerah hingga meraih keberhasilan. Ketekunan tetap berlangsung walau ada rintangan yang menghadang. Ketekunan sering digambarkan sebagai keberhasilan seseorang untuk melakukan sesuatu melalui percobaan dan kesalahan yang dialaminya. Kita hendaknya mengetahui bahwa tak ada sesuatu pun yang bernilai dapat diraih tanpa adanya dorongan untuk memulainya. Untuk itu ketekunan menjadi syarat utamanya. Bahkan tidak jarang mereka yang memiliki kecerdasan intelektual dan bakat tinggi pun sering gagal mencapai kinerja tinggi karena kurangnya keuletan. Sebaliknya, mereka yang menjadi pemenang, umumnya orang biasa karena ketekunan yang luar biasa. Mereka berkeinginan kuat untuk mengerjakan apapun asalkan mampu mencapai tujuannya.
Calvin Coolidge pernah mengatakan bahwa tak ada sesuatu di dunia ini yang dapat menggantikan ketekunan. “ Tak ada yang lebih bisa dari kenyataan banyaknya orang yang tak berhasil sekalipun memiliki bakat besar. Pengajaran juga tidak; dunia dipenuhi oleh kaum terpelajar yang terlantar. Ketekunan adalah semuanya”. Krock menambahkan bahwa rahasia keberhasilan adalah ketekunan.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam ketekunan ini, yakni: pertama, ketekunan waktu. Untuk mendapatkan hasil, kita harus lakukan adalah bertekun dalam waktu. Artinya, kita harus mengalokasikan dan mendedikasi waktu untuk mendapatkan hasil. Misalnya, jika kita ingin menulis buku, kita harus mendedikasikan waktu untuk menulis lembar demi lembar dari buku yang akan kita terbitkan tersebut. Kita juga harus mendedikasikan waktu untuk mengirim hasil karya kita ke penerbit untuk diterbitkan. Semakin besar investasi kita dalam waktu semakin dekat kita kepada hasil yang diinginkan. Seringkali kita terlalu cepat menyerah, padahal hasil yang kita inginkan mungkin saja tinggal beberapa langkah di depan kita. Kegagalan, masalah, dan berbagai kritik pedas sering menjadi batu sandungan bagi kita untuk terus mendedikasikan waktu guna mengejar hasil yang memuaskan.
Kedua, ketekunan pikiran. Ketekunan dalam waktu harus dilengkapi dengan ketekunan dalam pikiran. Jika kita ingin lulus ujian, kita harus mendedikasikan pikiran kita juga untuk mempelajari mata ajaran yang akan diujikan. Ketekunan pikiran akan membuahkan strategi baru ataupun solusi terhadap berbagai kendala yang menghalangi kita untuk mencapai apa pun yang kita inginkan. Jadi jika kita ingin menghadapi berbagai masalah janganlah sampai kita tergilas oleh masalah tersebut, melainkan kita harus mempelajari bagaimana agar lain kali kita bisa mengalahkan masalah tersebut dan mencari solusi baru atau strategi baru untuk melangkah maju mendekatkan diri ke hasil yang kita impikan.
Ketiga yaitu, ketekunan emosi positif. Ketekunan yang paling penting untuk kita terapkan guna mendapatkan hasil yang diharapkan adalah ketekunan dalam emosi positif. Apapun bisa kita dapatkan asalkan kita memiliki ketekunan dalam memupuk emosi positif terhadap cita-cita yang ingin kita wujudkan. Seringkali banyak orang hanya memiliki emosi positif di tahap awal saja, sejalan dengan bergulirnya waktu, emosi positif ini meredup sampai akhirnya menghilang, sehingga upaya untuk mewujudkan mimpi pun ikut padam. Padahal emosi positip ini ibarat jantung dari semua upaya kita untuk mendapatkan hasil yang dicita-citakan. Jika jantung berhenti berdegup, segala upaya otomatis berhenti total dan cita-cita yang ingin kita wujudkan tinggal impian belaka.
IV. REALISASI KEPEMIMPINAN-KU YANG MELAYANI BAGI SESAMA DALAM KOMUNITAS
Di atas penulis telah menyebutkan satu tugas yang sedang diemban yakni, wakil ketua komunitas. Sebagai wakil ketua komunitas, penulis memiliki beberapa tanggung jawab yang yang diserahkan oleh komunitas. Tanggung jawab itu berupa pelayanan bagi konfrater dalam berurusan dengan kehidupan berkomunitas. Wujud pelayanan yang kami realisasikan yakni menyediakan diri sebagai fasilitator antara formator dan formandi; kami harus bertanggung jawab atas kelancaran jadwal harian, mingguan dan bulanan yang telah disepakati bersama dalam komunitas; setiap pagi hari kami bertugas membangunkan tema-teman sekomunitas dari tidurnya; setiap harinya pula kami selalu mengingatkan bahwa jam doa, jam makan, dan jam kerja akan dimulai.
Bagi saya hal ini bukanlah sebagai sebuah beban, tetapi sebuah wujud pelayanan yang harus saya berikan kepada anggota komunitas demi kemajuan dalam komunitas itu sendiri. Tugas kepemimpinan yang saya terima semata-mata bukanlah jabatan, melainkan sebuah tugas dan tanggung jawab untuk mempersatukan dan mewujudkan kebersamaan setiap anggota dalam komunitas. Saya pernah berkata kepada diri saya sendiri, bahwa aku ingin berguna bagi sesamaku, dan aku ingin kehadiranku membawa kebahagiaan bagi sesama di mana saya harus berada. Ketika saya bisa melayani saudara-saudara lewat tugas-tugas di atas saya memastikan hal itu adalah sebagai tindakan cinta. Cinta tersebut harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata.
V. KETERBATASAN DIRI
Setiap orang memiliki keterbatasan dalam dirinya. Hal ini harus diakui. Menata hidup dalam pembentukan diri sebagai pemimpin, penulis sadar dan mengakui bahwa ada keterbatasan dalam proses ini. Yang dominan adalah keterbatasan dalam hal belajar mengenal diri. Salah satu cara biasa yang saya lakukan untuk mengenal diri adalah lewat meditasi pada pagi hari selama 30 menit. Saya sering gagal untuk sampai pada proses pendalaman dan dialog dengan diri oleh karena menahan rasa ngantuk. Mengapa muncul rasa ngantuk? Saya menyadari bahwa saya kerap “mengkorupsi” jadwal tidur pada malam harinya sedangkan pada pagi hari harus bangun pada jam 04.45.WIB.
VI. PENUTUP
Untuk menjadi seorang pemimpin yang melayani dibutukan sebuah kesadaran. Kesadaran menghantar seseorang untuk berproses menjadi pribadi yang mau menata hidupnya dalam sejumlah waktu yang tersusun dalam roda kehidupannya. Maka untuk menjadi seorang pemimpin yang melayani diperlukan sikap yang tahu memaknai waktunya.
Memaknai waktu itu tidak lain adalah kesadaran yang terus-menerus untuk menjadi diri sendiri, berani untuk mengenal diri lebih dalam, kemauan yang kuat untuk belajar serta tekun dalam menigikuti proses pembentukan diri. Bila hal ini kita lakukan dengan baik, maka pelayanan yang kita lakukan setiap hari akan membawa dampak positip bagi diri sendiri dan membawa kebahagian bagi orang lain (sesama komunitas kita) yang kita layani.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar